FATIMAH AZ ZAHRA

FATIMAH AZ ZAHRA 

Setiap agama, akidah atau revolusi terdiri dari 2 unsur, yaitu kebijaksanaan dan cinta. Kebijaksanaan adalah cahaya dan cinta adalah gerakan. Yang satu memberikan pikiran sehat, yang lain memberikan kekuatan, gairah dan gerakan. Demikian Ali Syariati memberikan gambaran  akan keterkaitan antara cinta, kebijaksanaan, gerakan dan pengorbanan. Dalam agama terkandung unsur ilmu dan perasaan, dimana ketiganya tidak dapat dipisahkan yang ditransformasikan  kedalam pengertian dan keimanan melalui akal sehat. Agama mengajarkan kepada kita bagaimana cinta dan menjadi pecinta. Untuk mewujudkan kecintaan terhadap si tercinta, perlu ada pengetahuan tentang si tercinta.  Sebuah ajaran agama yang terlahir secara historis dari sejarah perjuangan religius, penjagaan  nilai ruhani dan kebenaran diliputi oleh perjuangan yang dirangkum dalam peristiwa sejarah. Dalam perkembangan agama pun, kita melihat berbagai ekspresi keagamaan ikut berkembang sebagai wujud kecintaan terhadap sesuatu yang dianggap suci di dalamnya.

Sejarah selain merupakan sekumpulan peristiwa yang mengandung unsur waktu, dan ketokohan juga memberikan efek gerak. Dapat kita amati, di sebuah bangsa yang kaya akan sejarah perjuangan nilai-nilai kebenaran, akan menjadi sebuah bangsa yang kuat, sebab mereka memegang nilai-nilai teguh dari ajaran yang dibawa oleh tokoh-tokoh pejuangnya. Sebab rakyatlah disini yang mempunyai perasaan, ketulusan dan kecintaan. Ali Syariati mengambil gambaran syiah  sebagai ajaran yang memegang nilai-nilai teguh dari pejuang dalam kepercayaannya seperti tokoh Ali, Fatimah ataupun Husein. Hingga kini, tokoh-tokoh tersebut terus mengilhami mereka dan terus mengisi relung hati mereka yang menyebut diri sebagai pecinta. Mereka masih terus menumpahkan air mata di tengah doa-doa mereka. Tentang “menangis” ini, Ali Syariati dan Ibrahim Amini membagi 2 jenis . Menangis sebagai program dari si pecinta atau sebagai kesedihan akan hal-hal yang menimpa si tercinta, dan menangis sebagai aktifitas yang diliputi tanggung jawab, kesadaran, kewajiban serta pengetahuan akan si tercinta. Pengetahuan terhadap si tercinta ini adalah pengetahuan akan risalah-risalah yang dibawa, bukannya sekedar sebagai karamah atau mukjizat, bagaimana mereka hidup, bagaimana perjuangan mereka, apa yang mereka katakan dan lakukan.

Nabi Muhammad sebagai pewaris kemuliaan keturunan dan keluarganya, yang dilahirkan dari jihad, revolusi pemikiran dan kemanusiaan, memiliki karakter, status yang patut dipandang, telah mewariskan semua kemuliaan itu pada anak perempuannya, Fatimah Az Zahra.  Kelahiran seorang anak perempuan yang dinamakan Fatimah. Fatimah dilahirkan di zaman dimana kondisi masyarakat memandang rendah perempuan, yang mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka untuk menghindari malu dan bencana.  Kelahiran pewaris tunggal kenabian adalah seorang perempuan. Tentu ini telah menjadi rencana Tuhan. Fatimah menandai revolusi bagi pembebasan perempuan.

 Al Qur’an ingin mendidik manusia melalui beberapa utusannya. Dan sebagai bentuk kecintaan kita,  maka pentinglah untuk mengetahui kehidupan si tercinta, yaitu Fatimah Az Zahra. Dilahirkan di Mekkah, Jum’at 20 Jumadil Awal  dari ibu: Khadijah Al-Kubra.  Wafat : Selasa, 3 Jumadits Tsani 11 H pada usia 18 tahun dimakamkan di Baqi’, Madinah Al-Munawwarah.  Putera dan puterinya yaitu Al-Hasan, Al-Husein, Zainab dan Ummu Kaltsum. Julukan:  Fatimah, Az Zahra, Sayyidatun nisa’il alamin, As Siddiqah,  Al Mubarakah, At Thahirah, Az Zakiyah, Ar-Radhiyah,  Al  Mardhiyah, Al Muhaddatsah . Keutamaannya telah nampak semenjak masih dikandungan. Ia telah dapat membahagiakan ibunya, khadijah dengan berbicara semasih dikandungan. Kelahirannya adalah cahaya, yang memencar di pagi hari, tengah dan malam hari. Itulah Az Zahra (yang bercahaya). Dikandung dalam rahim seorang perempuan mulia (salah satu perempuan penghuni surga),Khadijah Al Qubra yang menjadi pendamping nabi dalam suka dan duka,yang mengorbankan seluruh kekayaan dan hidupnya untuk perjuangan agama. kemudian dilahirkan dengan bantuan perempuan-perempuan suci, Sarah istri Ibrahim as, Maryam ibunda Isa as, Asiah puteri Muzahim, Ummu Kaltsum saudara perempuan Musa.

 

Kelahiran Fatimah

Kelahiran Fatimah ditujukan kepada nabi sebagai  “Kautsar”, (nikmat yang berlimpah) ( Q/S 106:1-3), setelah musuhnya menganggap nabi sebagai orang yang keturunannya terputus. Kelahiran yang  amat menggembirakan Rasulullah SAWA. Beliau bersabda tentang Fatimah AH: “Dia adalah daripadaku dan aku mencium bau surga dari kehadirannya.”[Kasyf al-Qummah, Juz 2, hlm.24], “Fatimah adalah jiwaku, cahaya mataku dan buah hatiku. Dia adalah bidadari dalam bentuk manusia.

Dari Imam Shadiq diriwayatkan bahwa beliau dinamai fatimah karena Allah melindunginya dan pengikutnya dari api neraka . Gelar beliau yang terkenal adalah Az Zahra. Dari ibnu Abbas, Nabi bersabda : “ adapun putriku Fatimah, maka ia penghulu wanita di seluruh alam sejak pertama sampai akhir. Dialah segumpal darah bagiku, dialah cahaya mataku, dialah buah hatiku,dialah ruhku yang ada dikedua sampingku, dialah bidadari wanita di saat berdiri di mihrabnya di depan Tuhannya, cahayanya gemerlap menyinari (zahara) para malaikat langit seperti cahaya bintang menyinari penghuni bumi”.( Kitab Al Bihar, jilid 10 dari amali Assaduq) Benih Fatimah adalah berasal dari buah surga yang memancarkan cahaya yang dibuahi dari hasil pensucian ruh rasulullah selama 40 hari. Cahaya itu di surga dikenal dengan nama “Mansurah” dan di bumi dikenal dengan nama “Fatimah” karena dialah yang akan membebaskan para pengikutnya dari api neraka. Di surga dia bernama Mansurah karena dia akan membela para pengikutnya di alam akhirat kelak. Oleh karena itu beliau dinamakan Haura’ Al-Insiyah, peri yang berupa manusia, yang terpelihara jasad dan ruhaninya dari kotoran. dan jika rasulullah merindukan bau surga, beliau mencium Fatimah.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA bersabda yang bermaksud:

“Pada malam aku diangkat ke langit (mi’raj), aku melihat di pintu syurga tertulis bahawa Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasulullah, Allah mengasihiku, dan Hasan, dan Husayn sofwatullah (sari yang terbaik dari Allah) , Fatimah Khiratullah (sesuatu yang terbaik dari pilihan Allah), laknatullah ke atas mereka yang membenci mereka.”[Tarikh al-Baghdadi, Juzuk 1, hlm. 259]                                               

Ada beberapa nama Fatimah, yaitu Assidiqah (wanita terpercaya), Athahirah (wanita suci) al-Mubarakah (yang diberikahi Allah), al-Muhadatsah (Yang diajak bicara Jibril as), Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlaq, adab, hasab dan nasab. Fatimah Azzahra (bunga yang mekar semerbak), sayyidatunnisa-i ahlil jannah (Penghulu para wanita di surga). Fatimah telah mengetahui nasib dirinya dan siapa dirinya. Ia adalah mata rantai penerus risalah kenabian yang agung. Islam ingin mengagungkan perempuan. Fatimah telah menggantikan posisi laki-laki dan memelihara kehormatan nenek moyangnya.

 

Pendidikan Fatimah

Nabi yang melakukan revolusi pemikiran dan pembebasan menunjukkan dengan penyikapan dan penghormatan beliau terhadap putrinya. Ungkapan yang terus menerus diulang sebagai bentuk penegasan akan tanggung jawabnya dan kewajibannya. “ Wanita terbaik di dunia ada 4, Maryam, Asiah, Khadijah dan Fatimah. [Muhibuddin al-Tabari, Dhakha’ir al-Uqba fi Manaqib Dhawi al-Qurba, hl.42; Al-Hakim alam al-Mustadrak, Juzuk 3, hlm.157].

 Tuhan ridha bersama keridhoannya dan marah karena kemarahannya.” Barang siapa mencintai putri saya Fatimah, maka ia mencintai saya, Barang siapa menyakiti, maka menyakiti saya.”Ungkapan yang menggambarkan keteguhan seorang perempuan.

Dalam pidato nabi di depan kaum quraisy, bahkan di saat Fatimah masih kecil beliau mengatakan “Wahai Fatimah, ambillah apapun yang kau kehendaki dari harta bendaku, namun  dalam hubungan dengan Tuhanmu, aku tidak memohonkan barang suatu apapun untukmu. Atau “ Fatimah, bekerjalah sekarang, karena besok saya tidak dapat berbuat apa-apa untukmu”. Pernyataan ini ditujukan kepada Fatimah dikala Fatimah masih kecil, sehingga Fatimah telah mengetahui, bahwa bahkan Nabi pun tidak dapat menanggung dirinya di hadapan Tuhan. Ini berarti bahwa Fatimah yang telah mengetahui nasib dirinya dan posisinya, harus berjuang sendiri untuk menjadi seorang Fatimah Az Zahra.

Betapa keutamaan Fatimah di sisi nabi diungkapkan dalam sabda beliau ” Fatimah adalah sebahagian daripadaku. Barang siapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah.” [al-Bukhari, Jilid II, hlm.185] Setiap tokoh menjalankan peran, sebagaimana dalam kehidupan banyak peran yang  berlaku. Proses kehidupan Fatimah adalah proses menjadi, yaitu menjadi Fatimah Az Zahra. Proses menjadi untuk memenuhi syarat kesempurnaannya,sebagai manusia sempurna. yang tentunya bukan hal yang mudah. Fatimah harus memenuhi semua persyaratan sebagai perempuan agung pewaris kenabian. Syafaat hanya berlaku bagi orang yang pantas. dan nilai Fatimah hanya terletak pada diri Fatimah sendiri. Diantara putri-putrinya, Nabi hanya berbicara tentang keislaman kepada Fatimah.

Masa-masa sulit; pemboikotan yang dialami oleh Fatimah semasa kecil, perjuangan ayahnya yang diliputi dengan penderitaan, penghinaan telah mendidik jiwa Fatimah tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan kuat. Disusul oleh kematian Ibundanya, kehidupan Fatimah semakin berat dan mandiri. Sang anak telah menjalankan peran ummu abiha (ibu dari ayahnya) dalam mendampingi nabi tercinta di usia 5 tahun. Fatimah membersihkan wajah ayahnya yang dilumuri oleh kotoran dan darah. Fatimah memberikan kasih sayang tulus seorang anak kecil. Fatimah tumbuh dalam masa sulit, dan bukannya masa bahagia seperti kebanyakan anak lainnya. Seorang anak yang tidak menikmati kekayaan peninggalan ibunya. Fase kecil telah dilalui oleh Fatimah melalui metode pendidikan nabi yang merupakan pendidikan wahyu Ilahi.  Menuju fase pernikahan untuk menjadi istri sang penerus rasulullah, Ali bin Abi Thalib. Pada fase inipun, Fatimah meneruskan proses pendidikannya berpisah dengan rumah nabi dan membentuk rumah tangga sendiri. Fatimah sebagai seorang perempuan, sebagai seorang putri nabi, sebagai istri dari pengganti nabi, dan ibu dari penerus risalah kenabian kelak, yaitu Hasan dan Husein. Fatimah adalah pendidik penerus risalah dan pelindung penerus risalah. Pada fase kehidupan Fatimah inipun, banyak hal yang patut dijadikan panutan dari beberapa kisah. Pernikahan suci yang dirahmati Tuhan dalam kesederhanaan, namun untuk melindungi jalannya risalah, kehidupan rumah tangga yang didasari dengan kesucian, ketulusan, penghormatan satu sama lain dan fondasi pernikahan di atas tujuan yang agung/mulia.  Doa-doanya tak pernah luput ditujukan untuk kaum mukminin.

 Selama masa ini pun, nabi masih terus memberikan pendidikan akan nilai-nilai kesucian yang melampaui nilai-nilai pendukung kehidupan. Bagaimana seorang pelayan digantikan oleh zikir, tasbih az Zahra yang menggantikan dunia dan segala isinya. Allahu akbar 34 kali, Subhanallah 33 kali, dan Alhamdulillah 33 kali. Hidup mereka dengan sepatah kata itu. Nilai yang menjadi hidup Fatimah adalah perjuangan, yang makanannya adalah kesedihan dan cahaya.   “Tidakkah engkau redha (wahai Fatimah) bahawa engkau adalah saidati-nisa fil-Jannah(pemimpin wanita di syurga) atau pemimpin wanita seluruh alam” [Sahih Bukhari, Jld. IV, hadith 819] atau  Wahai Fatimah! Tidakkah engkau redha bahawa engkau adalah saidati-nisa il-mu’minin (pemimpin wanita mu’minin) atau saidanti-nisa-i hadzhihi il-ummah (pemimpin wanita umah ini)?”[Al-Bukhari, Jilid 8, hadith 301] Masa  kesulitan dilaluinya bersama suami dan kedua anaknya, pemimpin pemuda di surga, Hasan dan Husein. Dalam kesulitan ini Fatimah mendapat pertolongan dari Tuhan melalui malaikat Jibril sehingga beliau digelarig Al Muhaddatsah (yang berbicara dengan malaikat), dari Zaid bin Ali, saya mendengar Abu Abdillah As Shadiq bersabda :“Fatimah diberi nama Muhaddatsah karena malaikat dari langit turun dan memanggilnya seperti Maryam putri Imran : “ Wahai Fatimah, sungguh Allah telah memilihmu di atas seluruh wanita sekalian alam”.

Ada 3 hal kebahagiaan yang oleh Fatimah didapatkan di dunia ini, yaitu : Membaca kitab Allah, Memandang wajah Rasulullah dan berinfak di jalan Allah. Inilah keluarga nabi, yang dilingkupi oleh keterbatasan, kekurangan, namun selalu mementingkan kaum mukmin. Kelaparan, penderitaan ditanggung sebagai bentuk kekuatan jiwa.

 Fatimah al-Zahra AH mempunyai sifat-sifat berikut seperti ayahnya dan suaminya serta anggota keluarganya :(1) menemukan jalan yang benar (ihtida’) (2) mentaati prinsip-prinsip Islam (iqtida’), dan (3) berpegang teguh serta menyakini kewajipan-kewajipannya (tamassuk).” [Nasa’i dalam Khashais Alawiyyah]. Keluasan pengetahuannya ditunjukkan ketika seorang perempuan bertanya tentang apa yang terbaik dari seorang perempuan, dan beliau menjawabnya, Yang terbaik dari perempuan adalah yang tidak melihat dan dilihat oleh laki-laki.

 Fase ketiga kehidupan dijalani dengan wafatnya Nabi. Menjalankan kehidupan dengan mandat yang lebih berat ditengah kekacauan ummat. Than ini dinamakan tahun kesedihan (yaumul huzn) dimana Fatimah selalu bersedih hati.  Kini ia telah menjadi ibu Fatimah yang telah disi hati dan pikirannya oleh nabi. Ia menjadi satu-satunya anak yang masih hidup. Hati yang mendapatkan seorang sahabat melalui penderitaan, kesusahan dan kesedihan jauh lebih mendalam dibandingkan dengan cinta yang berdasarkan kebahagiaan dan kesenangan. Inilah persahabatan yang diterima oleh Fatimah dari Nabi Muhammad.  Semangat ayahnya telah ada dalam batinnya. kedekatan yang melampaui kedekatan seorang anak pada ayahnya.

 Masa kekacauan, penghianatan yang telah membuat diamnya Fatimah bagai gunung api. sabar dalam kediamannya bagai menyimpan gelora yang bergejolak menahan apa yang dihadapinya, dilihatnya dan yang dideritanya. Fatimah yang mengorbankan dirinya untuk melindungi suaminya, anak-anaknya di tengah musuh-musuhnya yang penuh kebencian. Diamnya Fatimah adalah cambuk yang beliau tunjukkan, baik dalam keteguhannya terhadap kebenaran yang diyakini dalam hal kepemimpinan suaminya atau protesnya untuk menegakkan hak-haknya dalam pidato tanah Fadak. Dalam pidato ini, Fatimah telah menjelaskan syariat, hukum-hukum agama dan penegakan kebenaran dan moral. Pasca wafatnya nabi pun menjadi tahun kesedihan (yaumul huzn) bagi Fatimah hingga wafatnya yang dekat jaraknya dengan wafat nabi.  Betapa rasulullah menginginkan kepatuhan kita kepada Fatimah melalui pernyataan beliau “Aku bukan tidak mengizinkanmu hidup mewah. Tetapi aku menganjurkanmu hidup sederhana, supaya nanti orang-orang mencintai kesederhanaan.” Fatimah yang dididik dalam rumah wahyu telah mewarisi seluruh keutamaan nabi dan pengajaran nabi.

Al Qur’an memerintahkan kita untuk meneladani tokoh-tokoh yang diceritakan dalam Al Qur’an, kita mengenal bentuk-bentuk kepatuhan sebagai wujud kecintaan terhadap sesuatu. Tingkat  kepatuhan yang paling tinggi adalah “identifikasi” yang merupakan proses untuk menjadi sama dengan orang lain sebagai bentuk kepatuhan diatas  dasar kecintaan terhadap seseorang. Demikianlah Rasul menginginkan kita untuk meneladani Fatimah dengan mematuhi Fatimah dan menjadikan kehidupan Fatimah, kepribadiannya sebagai proses identifikasi kita dalam menjadi seseorang, yang ingin menjadi seperti Fatimah. Sejarah kisah hidup Fatimah bukan hanya diliputi oleh cerita tentang kejaiban, karamah atau mukjizat beliau, tetapi perjuangan dalam keseluruhan hidup beliau adalah pelajaran/hikmah yang dapat diambil faedahnya.

Sebab setiap zaman yang berbeda konteks, tak pernah luput dari perjuangan, dan Sebenarnya kebutuhan terhadap seorang figur adalah kembali pada fitrah cinta pada kesempurnaan. Dengan kata lain, manusia senantiasa mencari kesempurnaan dengan meniru prilaku serta tindak tanduk figurnya. Manusia berusaha untuk mencari kesempurnaan. dan hanya manusia sempurnalah yang mampu mewakili kesempurnaan. Disinilah peran utama figur/tokoh universal yang dihadirkan Tuhan untuk dijadikan sebagai panutan. Fatimah adalah  figur universal yang tak lekang oleh zaman, yang akan terus mengisi relung hati kita.

Kelahiran & Kematian

Pemimpin wanita pada masanya ini adalah putri ke 4 dari anak anak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid. Sesungguhnya allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki kelahiran Fathimah yang mendekati tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai menengah ketika terjadi perselisiha antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakan kembali Hajar Aswad setelah Ka’abah diperbaharui. Dengan kecerdasan akalnya beliau mampu memecahkan persoalan yang hampir menjadikan peperangan diantara kabilah-kabilah yang ada di Makkah.

Kelahiran Fahimah disambut gembira oleh Rasulullahu alaihi wassalam dengan memberikan nama Fathimah dan julukannya Az-Zahra, sedangkan kunyahnya adalah Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya).

Ia putri yang mirip dengan ayahnya, Ia tumbuh dewasa dan ketika menginjak usia 5 tahun terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya yaitu turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban oleh ayahnya. Dan ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya.sampai cobaan yang berat dengan meninggal ibunya Khadijah. Ia sangat pun sedih dengan kematian ibunya.

Pada saat kaum muslimin hijrah ke madinah, Fathima dan kakanya \ummu Kulsum tetap tinggal di Makkah sampai Nabi mengutus orang untuk menjemputnya.Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar, para sahabat berusaha meminag Fathimah. Abu Bakar dan Umar maju lebih dahulu untuk meminang tapi nabi menolak dengan lemah lembut.Lalau Ali bin Abi Thalib dating kepada Rasulullah untuk melamar, lalu ketika nabi bertanya, “Apakah engkau mempunyai sesuatu ?”, Tidak ada ya Rasulullah,” jawabku. “ Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu,” Tanya beliau. “ Masih ada padaku wahai Rasulullah,” jawabku. “Berikan itu kepadanya (Fatihmah) sebagai mahar,”.kata beliau.

Lalu ali bergegas pulang dan membawa baju besinya, lalu Nabi menyuruh menjualnya dan baju besi itu dijual kepada Utsman bin Affat seharga 470 dirham, kemudian diberikan kepada Rasulullah dan diserahkan kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin.

Kaum muslim merasa gembira atas perkawinan Fathimah dan Ali bin Abi Thalib, setelah setahun menikah lalu dikaruniai anak bernama Al- Hasan dan saat Hasan genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke 4 H. pada tahun kelima H ia melahirkan anak perempuan bernama Zainab dan yang terakhir benama Ummu Kultsum.

Rasullah sangat menyayangi Fathimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fathimah sebelum menemui istri istrinya. Aisyah berkata ,” Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fathimah, jika ia dating mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fathimah bila Rasulullah dating mengunjunginya.”.

Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:” Sungguh Fathima bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah bearti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fathimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.

Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menjalankan haji wada’ dan ketika ia melihat Fathima, beliau menemuinya dengan ramah sambil berkata,” Selamat dating wahai putriku”. Lalu Beliau menyuruh duduk disamping kanannya dan membisikan sesuatu, sehingga Fathimah menangis dengan tangisan yang keras, tak kala Fathimah sedih lalu Beliau membisikan sesuatu kepadanya yang menyebabkan Fathimah tersenyum.

Takala Aisyah bertanya tentang apa yang dibisiknnya lalu Fathimah menjawab,” Saya tak ingin membuka rahasia”. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah bertanya lagi kepada Fathimah tentang apa yang dibisikan Rasulullah kepadanya sehingga membuat Fathimah menangis dan tersenyum. Lalu Fathimah menjawab,” Adapun yang Beliau kepada saya pertama kali adalah beliau memberitahu bahwa sesungguhnya Jibril telah membacakan al-Qura’an dengan hapalan kepada beliau setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun 2 kali, lalu Beliau berkata “Sungguh saya melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik baiknya Salaf (pendahulu) untukmu adalah Aku.”. Maka akupun menangis yang engkau lihat saat kesedihanku. Dan saat Beliau membisikan yang kedua kali, Beliau berkata,” Wahai Fathimah apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita wanita penghuni surga dan engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku”. Kemudian saya tertawa.

Takala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Fathimah jatuh sakit, namaun ia merasa gembira karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama kemudian iapun beralih ke sisi Tuhannya pada malam selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.

Assalamu alaiki ya Fatimah, Assalamu alaiki ya sayyidatun nisaa’il alamin

Referensi :

Ibrahim Amini, Fatimah Az Zahra 

Ali Syariati, Fatimah Az Zahra, figur perempuan sepanjang zaman

http://id.wikipedia.org/wiki/Fatimah_az-Zahra

 

 

.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s